Goes to Pacitan ala Sinetron...



Hari ini lumayan membosankan. Iseng-iseng buka blog, ternyata uda lama banget gak nulis disini. Oke untuk hari ini saatnya mencurahkan kebosanan hari ini di blog. Eeh nggak ding, aku mau membagi yang seneng-seneng aja. Hehehe :D
Oke.. Cerita ini dimulai dari akhir bulan yang lalu saat seorang aku ikut wisata ke Pacitan. Awalnya sebelum berangkat sempat ragu, “duuh jalan menuju Pacitan itu kan ancur banget, apa iya tempat wisatanya nanti sebanding dengan perjuangan di jalan menuju kesana”.
Terakhir ke Pacitan itu duluu banget, jaman masih TK atau SD kalo gak salah. Udah belasan tahun yang lalu. Sebelum memutuskan ikut kesana, aku mulai searching di internet semua tentang Pacitan. Tanya kanan kiri juga tentang Pacitan. Heboh banget hidupku sebulan sebelum berangkat, berasa mau pindah bermukim disana. Padahal lho kesanannya cuma sehari doing.. hehehehehe
Berdasarkan review dari berbagai blog traveler yang aku baca, intinya Pacitan itu bagus, gak ada jelek-jeleknya deh. Kalau dari orang-orang yangberhasil aku gali infonya alias aku wawancara secara langsung (rada lebay), intinya itu bagus, cumaaa… Nah ini yang ditunggu-tunggu, cuma disana itu kulinernya kurang menggugah selera. Tapi buat aku yang bisa dikategorikan pemakan segala ini no problem lah tentang kuliner.
Akhirnya jreng…jreng… datang juga hari itu, goes to Pacitan. Kita (aku dan teman-teman kantor) berangkat jam dua dini hari. Gila emang, sahur aja gak sepagi itu. Semaleman gak tidur, bukan karena seperti dulu jaman SD gak bias tidur kalo besoknya mau pergi, tapi malam itu sebuah stasiun televisi swasta muter Harry Potter. Sumpah gak pernah bosen sama film ini.
Oke kembali ke topik. Karena semalaman gak tidur, alhasil selama perjalanan berangkat ke Pacitan aku pules. Berangkat jam dua dari Tulungagung, bangun-bangun sudah jam lima sampai di Pacitan. Selepas sholat Shubuh, barulah mata ini mau terbuka. “GILA” itu kata pertama yang terucap saat mata ini melek. Pemandangan hijau dengan sungai berbatu besar-besar menyambut kami. Udaranya pun masih sejuk, tidak banyak polusi disini. Sampai detik ini, jalannannya masih baik-baik saja. Memang cukup banyak tanjakan, turunan, dan tikungan yang tajam, namun sejauh ini jalannya masih mulus-mulus saja. Jika dilukiskan kita ini sedang merayap melewati punggung pengunungan kapur di sisi selatan pulau jawa.
Tempat pertama yang kita kunjungi saat itu adalah….
PEMANDIAN AIR HANGAT TIRTO HUSODO
Dari tempat parkir menuju kolam pemandian tidak begitu jauh. Jalannya lumayan menanjak. Sampai didalam aku sedikit kecewa dengan fasilitas yang disediakan. Seperti kamar ganti atau kamar mandi yang sempit dan kotor tidak terawat. Belum lagi tidak banyak tersedia gazebo atau tempat duduk yang bisa dengan leluasa kita tempati. Akhirnya kita umpel-umpelan dalam satu gazebo.
Disini terdapat empat kolam air panas. Satu kolam utama yang katanya super panas, karena air asli dari sumber belum mendapatkan campuran air dingin. Dua kolam lainnya lumayan hangat dengan tingkat kedalaman yang berbeda. Dan satu kolam kecil khusus untuk anak-anak. Kekecewaan atas fasilitas yang kurang memadai tadi akhirnya terobati saat badan ini menyentuh hangatnya air biru itu. Lumayan bisa meregangkan otot-otot yang kaku selama tidur sepanjang jalan tadi.. hihihihi… :B

Sekitar jam 9.00 kita meninggalkan tempat ini. Tujuan selanjutnya adalah mencari pengisi perut yang sudah keroncongan. Setelah muter-muter sekitar satu jam kita mutusin untuk makan di salah satu Resto dengan judul masakan Jawa Timuran. Hasil wawancaraku mulai terbukti disini, pesannya soto ayam tapi yang keluar adalah soto jerohan, itupun tanpa rasa alias hambar. Oke perut saya yang dulu bertajuk pemakan segala sekarang berubah menjadi pemakan pilih-pilih. Dan akhirnya cacing dalam perut tetap berkaraoke dengan lantang.
Setelah sarapan yang kesiangan itu adegan drama dimulai. Beberapa teman yang mabok perjalanan terpaksa dimasukkan ke IGD di Rumah Sakit setempat. Ini pertama kalinya aku wisata dengan salah satu tujuannya adalah IGD Rumah Sakit.

Selanjutnya dari IGD kita berlanjut ke tempat berikutnya, ini beneran tempat wisata lho.. Rencanyanya kita akan ke Goa Gong dulu baru sorenya menikmati sunset di pantai. Tapi gak tau kenapa ternyata kita ke pantai dulu, gak masalah sih yang penting dinikmati aja. Ayeeeiii kita menuju pantai Klayar. Karena kendaraan yang kita bawa adalah bus tidak bisa melewati akses jalan menuju pantai Klayar, akhirnya kita menyewa mobil untuk menuju sana. Mobil yang kita pakai saat itu adalah mobil pic up yang telah dimodifikasi dengan menambahkan tempat duduk di sisi kanan dan kiri serta atap.
Dari tempat parkir menuju pantai Klayar jalannya lumayan berantakan. Banyak aspal jalan yang berlubang, tanjakan dan belokan yang cukup tajam, tapi sangat seru dan mendebarkan. Rumah penduduk yang khas terbuat dari kayu dengan atap yang rendah, pegunungan kapur dengan tanaman hijau memenuhi indra penglihatan kami selama di jalan. Dan ketika sampai di pantai Klayar… tada…. Subhanallah…

Pantai ini masih sangat alami, belum ada pembangunan yang mencolok di daerah sekitarnya. Pasirnya putih bersih dan berkilau diterpa matahari dengan air yang berwarna kebiru biruan. Di sekitar pantai, di bawah pohon kelapa banyak penjual kelapa muda alias degan yang terlihat segar, namun sayangnya tidak sesegar yang terlihat karena degannya bukan degan baru. Oke lupakan makanan, saatnya kita mengeksplorasi pantai Klayar ini.
Saat menyentuh bibir pantai tentu saja foto-foto adalah hal yang tidak boleh terlupakan. Saat sedang asyik berfoto dating mas-mas bertopi yang menawari kami untuk mencoba berkendara dengan motor ATV di sepanjang pantai. Tarif sewanya saat itu adalah Rp 100.000,- per jam. Tanpa piker panjang kami, saat itu berdelapan menyewa empat ATV untuk berkeliling pantai. Matahari yang tersenyum mekar pas diatas kepala tak menyurutkan niat kami.
Berkeliling dengan ATV menuju sisi kiri pantai kami mendapati batu karang yang menonjol tinggi. Kami coba menaiki batu karang tersebut dengan dipandu oleh bapak pemandu lokal disana. Ternyata pemandangan tak kalah indahnya tersembunyi dibalik batu karang tersebut. Disana juga terdapat seruling laut, yaitu semacam batu karang yang mempunyai celah dan apabila terdapat ombak yang lumayan besar air laut akan keluar dari celah tersebut seperti air mancur di taman kota. Sayangnya ditunggu sampai lama kami tidak bisa berfoto dengan air mancur tersebut. *kecewa* :(

Di pantai Klayar ini juga tidak terlalu banyak stand yang menjual souvenir khas daerah. Kalaupun ada hanya beberapa stand kecil. Menjelang siang menuju sore kami beralih meninggalkan pantai menuju Goa Gong. Ternyata letak goa ini tidak jauh dari area parkir bus kami. Jalan menuju Goa Gong ini lumayan menanjak. Entah berapa ratus anak tangga yang sudah dilalui tapi kok gak nyampe-nyampe ya, ngeluh dalam hati ini ceritanya.
Oya, sepanjang jalan menuju mulut goa terdapat banyak ibu-ibu yang menawarkan jasa sewa senter seharga Rp 5.000,-. Sebelum masuk pintu goa, ekspektasiku sangat amat tinggi terhadap goa ini. Dan jreng.. jreng.. Begitu masuk goa bakalan disambut dengan kegelapan. Cuma ada lampu warna-warni di beberapa sudut goa. Sekitar lima puluh meter pertama jalannya dua arah, jadi antara yang masuk dengan pengunjung yang mau keluar jadi satu. Baru setelah itu jalannya terpisah. Tidak begitu banyak yang bisa diceritakan dari goa ini, karena pas di dalam aku lebih sibuk memperhatikan langkah kaki karena jalannya begitu licin. Tapi yang pasti goa ini tidak terlalu dalam dan luas. Setelah keluar dari goa sepanjang jalan kembali ke area parkir terdapat banyak stand penjual souvenir.
Menjelang sore kami bertolak menuju pantai teleng ria. Di pantai ini banyak stand penjual souvenir dan aneka olahan ikan laut. Untuk rasa makanannya sih bisa dibilang standart untuk mulut saya, hehehehe :)

Setelah perut kenyang menjelang malam kami berangkat pulang. Lebih tepatnya sih berangkat ke IGD mengantar pasien berikutnya. Ceritanya lebih lanjut disambung kapan-kapan aja ya, uda lebih dari tiga halaman ini. Kasihan keyboardnya uda jerit jerit… :D

to be continue....^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar