Tidak ada alasan untuk sebuah cinta..



Berawal dari sebuah ego anak manusia yang selalu merasa kurang puas dengan apa yang sudah didapat. Selalu bersikukuh pada apa yang sudah menjadi prinsip hidupnya. Meninggalkan kenyamanan semu yang akhirnya terdampar pada sebuah tempat dimana rasa syukur selalu mengalir setiap waktu.

Memasuki dunia baru yang sedikit asing, bertemu dengan banyak orang dengan beraneka sifat. Iyaahh… dari sinilah hidupku dimulai. Dari semua hal yang terkesan mustahil tapi semua dapat tercapai dengan satu keyakinan, doa dan usaha. Merasa menjadi manusia kembali ketika bisa bermanfaat bagi orang lain.

Seperti halnya pagi itu. Sepasang suami istri datang dengan membawa bayi mungil yang tertutup kain gendongan. Teriknya matahari membekas diwajah telih mereka.

Astaghfirullah…. Bayi mungil berumur 11 bulan itu berwarna kuning kebiru-biruan. Bayangan bayi yang lucu menggemaskan pun sirna sudah. Hepatoma. Semenjak lahir sudah diuji oleh Sang Maha Kuasa. Baru sekali bertemu saja berat rasanya jika sampai menanggung semua itu. Tapi sungguh luar biasa kekuatan dan ketabahan kedua orang tuanya. Bagaimana dengan aku? Kesehatan yang menyertai masih sering kurang, penuh keluhan dan keluhan. Maafkan aku Tuhan…

Itu semua hanya sebagian kecil yang Tuhan tunjukkan padaku. Masih banyak lagi kejadian serupa yang setiap waktu membuat hati teriris. Bagaimana seorang Suci kecil yang harus berjuang menghadapi leukemia yang menggerogoti tubuhnya. Bagaimana kedua orang tuanya membanting tulang untuk kesembuhan putri kecilnya. Tak pernah terbesit keinginan untuk berhenti berjuang. Kenapa? Karena tidak perlu ada alasan untuk sebuah Cinta…

Lalu bagaimana tangguhnya perjuangan seorang Ade yang terus memaksa sekolah dengan kondisi kaki yang sudah tidak berfungsi. Kanker tulang telah menggerogoti kedua kakinya. Bagaimana dengan sebuah kursi roda dia tetap mengejar mimpinya di bangku sekolah. Bagaimana dengan kerasnya kedua orang tuanya mengupayakan kesembuhan putri tercintanya. Bagaimana teman-temannya menguatkan dia dengan keriangan remaja kala itu. Bagaimana sebuah kanker telah membingkai umurnya dalam batas yang sangat singkat.

Kalau kita mau sedikit saja membuka mata dan telinga kita, sebentar saja menundukkan kepala. Lihatlah bagaimana perjuangan saudara-saudara di sekitar kita. Bagaimana perjuangan mereka dibalik semua ujian yang tidak mereka minta. Kekuatan yang tumbuh dari jiwa-jiwa yang rapuh itulah yang menjadi modal besar bagi setiap orang disekitarnya untuk terus berjuang. Demi sebuah harapan dan cinta.

Apakah mereka pernah menyalahkan Tuhannya? Apakah mereka pernah membenci Tuhannya atas apa yang mereka alami?

Tidak.

Mereka selalu bersyukur atas apapun yang mereka dapatkan. Atas apa yang mereka jalani. Atas semua ujian dan nikmat yang mereka rasakan.

Lalu dimana rasa syukurmu saat apa yang kau alami tidak seberat cobaan mereka?
Dimana rasa syukurmu saat nikmat Tuhan selalu menyertaimu sepanjang waktu?

Pertanyaan itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri setiap waktu. Dimana semangat juangmu?

Karena tidak ada batasan waktu kapan kita harus berhenti berjuang, kapan kita harus berhenti berharap. Karena seindah indahnya harapan adalah harapan kepada Sang Maha Pencipta. Dan yang pasti tidak ada alasan untuk sebuah harapan dan cintaa…


Tpw’13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar