Mengapa kau tidak tersenyum saja?


Photo ini diambil suatu sore di pinggir danau di sebuah universitas negeri di Surabaya. Danau ini terkenal dengan nama danau cinta. Entah kenapa, semenjak aku kuliah disana sudah sangat tenar nama itu. Mungkin karena setiap sore banyak muda-mudi yang menikmati senja berdua disana. Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kenapa mbak satu ini seolah mau menghancurkan nama besar danau cinta. Berdiri sendiri dengan wajah galau menatap asa.

Begitu beratnya kah beban menjadi mahasiswa Mbak?. Aku tahu mbak, kamu sedang menjalin hubungan yang complicated dengan dosen pembimbing skripsimu. Tapi aku mohon plisss jangan ada niat bunuh diri dengan nyemplung ke dalam danau. Aku jamin bukan malaikat yang akan menyambutmu, melainkan kerumunan ikan yang bersorak senang mendapatkan jatah makan super spesial hari itu.

Mbak, jika kau perhatikan, di sisi sebelah kananmu dua muda-mudi tertawa riang menikmati bersama. Tapi kau kenapa bermuram durja seolah tak ada lagi hari esok untukmu. Apa sebenarnya yang kau gundahkan. Mengapa kau tidak tersenyum saja? Janganlah kau tanyakan jawaban atas dukamu pada semilir angin dan langit sore. Hanya Tuhannya tempat segala jawaban berada.




--terimakasih untuk @SLNailufar atas photonya--

ANTARA AKU, KAU, DAN BUAYA


Sore itu dengan sebuah buaya di tangan cukuplah untuk membuatnya tersenyum. Bukan karena aku membawa si buaya untuk melamarmu seperti adat Betawi, namun lebih karena aku tahu kau sangat menyukai buaya itu. Bahkan mungkin melebihi sukamu padaku.

Mulai dari atas kau amputasi kepala buaya lucu itu tanpa perlawanan. Kau sisakan dua pasang mata kismisnya yang kamu bilang “Ini asem”.  Lelehan coklat lembut cukup kau colek dengan ujung telunjukmu yang kemudian kau jilati berkali-kali.

Bagimu sekarang nikmat dunia itu cukup bisa bermesraan berdua dengan si buaya. Tidak seperti saat kau dewasa kelak Nak. Si buaya saja tak akan cukup menyenangkan hatimu. Seperti kami, para makhluk yang sudah berumur banyak ini akan banyak juga hal kau butuhkan untuk menyenangkan hati. Dan semakin banyak juga ingin yang sulit terkendali.

Nikmatilah dunia kecilmu senikmat kau bersama si buaya. Karena saat itu tak akan bisa kau ulang saat jerawat telah datang padamu.

Kakak Pembina Pramuka


Namanya Saiful, tapi jangan kaget kalo banyak yang memanggilnya “Kak Saiful”. Bagi saya manusia yang awam dengan pramuka sering berfikir apa sampai kakek-kakek nanti masih tetap dipanggil “Kak?”
Kalau melihat fotonya ini jadi muncul pertanyaan iseng, itu kenapa bawa-bawa selang aja pake acara dandan rapi berdasi gitu??? Itu bukan lagi nguras kolam atau nguras septic tank kan?? Jawabannya hanya Tuhan dan dia sendiri yang tau. Hehehehe…
Menjadi pembina pramuka sih kabarnya membuat dia populer dikalangan para ABG. Ciiieee… gak heran ponselnya sampe lebih banyak dari jumlah tangannya. Satu ponsel untuk satu cabang begitu istilahnya. Belum lagi akun-akun jejaring sosialnya yang isinya hanya dipenuhi sama komentar para ABG yang semoga masih labil dan tidak salah jalan. Piiiiiiiiiiissssss Kakak.
Bukan maksud membuka aib atau dosa dia sih, tapi berharap semoga dengan adanya postingan ini membuat dia semakin tenar di dunianya. Hanya itu balas budi yang bisa aku berikan atas kekhilafan telah karena telah memposting foto dan komentar apa adanya dan mungkin menyakitkan ini.

Terimakasihku untukmu para pembuat bajuku..


Ibu ini masih tetap setia dengan mesin jahitnya dikala anak-anaknya telah tertidur lelap dengan mimpi indahnya. Tumpukan kain masih menggunung menunggu sentuhan tanggannya untuk disulap menjadi baju beraneka bentuk. Tidak pernah terfikir dalam benak kita bagaimana sebuah kain lembaran dalam waktu singkat dapat berubah menjadi baju layak dan indah dipakai. Tanpa tangan-tangan terampil seperti Ibu ini mungkin kita hanya akan memakai kain lembaran yang cukup diikat ke tubuh.
Profesi Beliau sebagai penjahit seringkali terabaikan oleh kita-kita yang terbiasa beli baju jadi di toko, di mall, di distro. Tapi dibalik semua mewahnya baju yang kita pakai saat ini ada tangan-tangan terampil yang bekerja seperti Beliau. Seorang desainer ternamapun pasti akan tetap membutuhkan penjahit-penjahit untuk menyelesaikan karyanya. Dan satu kehebatan beliau yang patut diacungi jempol adalah, bahwa Beliau membuat model, pola, dan menjahit sendiri semuanya. Terimakasihku untukmu para pembuat bajuku..
^^

PAK GURU SPESIAL


Beliau ini namanya Bapak Arif. Salah seorang guru pengajar di sebuah SDLB di daerah Kediri. Kalau ada yang belum tau dimana itu Kediri silakan liat lagi nilai geografinya dulu berapa. Kediri itu terkenal dengan grup sepak bola Macan Putih dengan kostum ungu, terkenal dengan sebutan kota Tahu karena banyak sentra industri tahu kuning, terkenal dengan getuk pisangnya, dan dilewati oleh sungai Brantas.
Lalu kenapa jadi yang diceritakan Kedirinya?
Oke kita kembali ke topik bahasan kali ini, jreng jreng jreng… Ini dia sosok guru yang sebenarnya aku sendiri gak begitu mengenalnya, sebagai guru. Dari awal Aku lebih mengenalnya sebagai ayah dari seorang anak cewek yang amit-amit banget ( @nikaflow ). Piiiiiissssss…
Beliau ini sudah mengajar anak-anak difable sejak kurang lebih belasan tahun yang lalu. Wajahnya sih serem ya, rambut mendekati Once, berjenggot, tapi kalau sudah kenal, ahhh biasa tuh. Hehehe
Waktu SMP aku pernah main ke sekolah tempat Bapak ini mengajar. Dari situlah aku tau apa itu huruf braille,  bagaimana bentuknya, bagaimana cara berbicara dengan bahasa isyarat. Tapi yang bikin mengganjal dalam hati itu kenapa sih ini Bapak mau mengajar anak-anak itu? Kenapa Bapak ini gak jadi guru di sekolah umum aja? Mungkin setelah foto beliau yang didapat tanpa izin yang bersangkutan ini berhasil di posting si Bapak akan memberikan alasannya.
Mengajar itu adalah hal yang mulia. Bukan hanya berhubungan dengan gaji dunia semata tapi juga imbalan kelak saat bertemu dengan Sang Pencipta Hidup. Namun begitu masih belum terfikir juga dalam diriku bagaimana beliau bisa berada dalam lingkungan anak-anak yang spesial itu. Menjadikan mereka yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa. Menjadikan mereka berilmu dan menjadi sama seperti kita pada umumnya.
Satu hal lagi yang membuat salut dari Bapak ini adalah bahwa keluarganya satu rumah, istri dan anak beliau juga berkecimpung dalam dunia yang sama. Sebagai guru bagi anak-anak difable. Beruntunglah kita masih mempunyai mereka yang peduli dengan ciptaan Tuhan yang spesial itu.

#PeopleAroundUs #Day2 @aMrazing @nikaflow