Sore
itu dengan sebuah buaya di tangan cukuplah untuk membuatnya tersenyum. Bukan karena
aku membawa si buaya untuk melamarmu seperti adat Betawi, namun lebih karena
aku tahu kau sangat menyukai buaya itu. Bahkan mungkin melebihi sukamu padaku.
Mulai
dari atas kau amputasi kepala buaya lucu itu tanpa perlawanan. Kau sisakan dua
pasang mata kismisnya yang kamu bilang “Ini asem”. Lelehan coklat lembut cukup kau colek dengan ujung
telunjukmu yang kemudian kau jilati berkali-kali.
Bagimu
sekarang nikmat dunia itu cukup bisa bermesraan berdua dengan si buaya. Tidak seperti
saat kau dewasa kelak Nak. Si buaya saja tak akan cukup menyenangkan hatimu. Seperti
kami, para makhluk yang sudah berumur banyak ini akan banyak juga hal kau
butuhkan untuk menyenangkan hati. Dan semakin banyak juga ingin yang sulit
terkendali.
Nikmatilah
dunia kecilmu senikmat kau bersama si buaya. Karena saat itu tak akan bisa kau
ulang saat jerawat telah datang padamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar