Sekelumit Tentang HIV-AIDS



Akhir-akhir ini sering sekali membaca perdebatan orang-orang di jejaring sosial tentang HIV-AIDS. Belum lagi bulan kemarin pemberintaan gencar membahas kontroversi pembagian kondom. Sebenarnya hati ini sedikit tergelitik kalau membaca dan mendengar hal-hal tersebut.
Sebelum menulis lebih jauh perlu diketahui kalau saya ini hanyalah orang biasa, bukan ahli, pakar, paramedis, ataupun aktivis. Saya hanyalah orang yang sedikit (iya, jujur cuma sedikit) peduli dengan masalah HIV-AIDS di Indonesia. Jadi tulisan ini hanyalah pendapat pribadi dari kacamata saya. Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tidak berkenan dengan tulisan ini silakan menghentikan membacanya sampai disini saja dari pada anda membuang-buang waktu :)

Seperti yang kita ketahui bersama, HIV-AIDS merupakan penyakit yang masih menjadi momok dalam masyarakat. Sampai saat ini para pakar masih berupaya untuk mencari pengobatan yang tepat untuk bisa menyembuhkan penderita. Penderita HIV-AIDS atau yang lebih biasa dikenal dengan sebutan ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) banyak yang mendapatkan stigma dari masyarakat. Belum lagi kasus HIV-AIDS yang semakin meningkat dari tahun ke tahun (maaf tidak bisa mencantumkan data yang akurat).
Bagaimana cara mengatasi masalah HIV-AIDS ini?
“Mencegah” itu kata pertama yang terlintas dalam otak saya. Bukankah benar kalau ingin membuat jumlah penderita HIV-AIDS tidak meningkat adalah dengan mencegah seorang yang sehat untuk tidak sampai terinfeksi. Karena HIV-AIDS belum diketemukan obatnya jadi mustahil bisa menurunkan angka kesakitannya kecuali jika banyak ODHA yang meninggal, tapi itu tentu bukan harapan.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, menurut Leavell dan Clark (1965), terdapat 5 tingkat pencegahan terhadap penyakit, antara lain :
1. Promotion of health
2. Spesific protection
3. Early diagnosis and promt treatment
4. Limitation of disability
5. Rehabilitation

Saya mencoba memasukkan permasalahan HIV-AIDS kedalam setiap poin tingkat pencegahan tersebut dengan hasil seperti ini:
1.   Promotion of health, adalah suatu promosi kesehatan dimana masyarakat dikenalkan tentang apa itu HIV-AIDS, bagaimana cara pencegahan, penularan, dan tentang pengobatannya. Bentuk kegiatan yang bisa dilakukan seperti sosialisasi, penyuluhan, atau dengan penyampaian informasi melalui media.
2.   Spesific protection atau perlindungan terhadap suatu penyakit ini menurut saya lebih tepat diarahkan kepada para tenaga kesehatan. Bagaimana mereka melindungi diri selama menjalankan kewajiban sebagai tenaga kesehatan di tempat pelayanan kesehatan dari bahaya terlularnya HIV-AIDS dengan menggunakan alat pelindung diri sesuai prosedur. Bisa juga dengan penggunaan kondom pada pasangan (suami istri) yang beresiko tinggi. Kalaupun mau memberikan imunisasi yang termasuk dalam golongan spesific protection, sampai saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah infeksi HIV.

3.   Early diagnosis and promt treatment. Early diagnosis atau diagnosa sejak dini untuk HIV-AIDS adalah dengan melakukan tes HIV atau yang lebih dikenal dengan VCT (Voluntary Counseling Test). Promt treatment merupakan tindak lanjut dari early diagnosis apabila memang didapatkan hasil diagnosis yang positif maka perlu segera dilakukan pengobatan guna mencegah kegawatan penyakit. Mencegah sebisa mungkin agar ketika si penderita ditemukan dalam tahap HIV tidak berkembang menjadi AIDS.

4.   Limitation of disability atau pembatasan kecacatan. Pemahaman saya, pada tahap ini yang bisa dilakukan pada ODHA adalah dengan mencegah timbulnya komplikasi pada diri mereka sehingga dapat membatasi pada hal-hal yang membahayakan kehidupan yang bersangkutan.

5.   Rehabilitation pada ODHA yang paling menonjol adalah rehabilitasi mental. Bagaimana cara menguatkan mental penderita agar bisa kembali ke lingkungannya dengan membawa status baru dari dalam dirinya.

Lalu sejauh mana upaya pencegahan yang telah dilakukan oleh pihak-pihak yang harusnya bertanggung jawab atas masalah ini?

Tunggu dulu, memang siapa yang harusnya bertanggung jawab atas masalah HIV-AIDS ini?

Ini adalah tanggung jawab kita bersama, masyarakat. Bukan hanya tanggung jawab pemerintah, kementrian kesehatan, tenaga kesehatan, LSM, ataupun penderita itu sendiri.

Jika memperhatikan tingkatan dalam pencegahan penyakit seperti yang telah diuraikan diatas langkah promotion of health adalah poin pertama yang bisa dilakukan untuk mencegah HIV-AIDS. Pengetahuan yang ada pada seseorang dapat mempengaruhi tindakan atau perilakunya. Dengan meng-edukasi masyarakat umum tentang HIV-AIDS tentunya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga masyarakat dapat menimbang apakah tindakan atau aktivitas yang dilakukannya beresiko terhadap penularan HIV-AIDS atau tidak.
Menurut saya selain materi tentang HIV-AIDS itu sendiri perlu juga ditambahkan pendidikan moral sejak dini kepada masyarakat. Karena jika menilik pada penularan HIV-AIDS yang sebagian besar melalui tindakan yang tidak dibenarkan secara moral (seperti halnya sex bebas dan penggunaan bersama jarum suntik narkoba). Dimana cara penularan yang lain adalah suatu hal yang tidak dapat disangka, seperti dari donor darah (sekarang sudah discreening oleh PMI), hubungan seksual antara suami istri dimana salah satunya positif HIV/AIDS tapi tidak diketahui, dan tenaga medis yang menangani pasien positif HIV/AIDS (yang statusnya tidak diketahui) tanpa menggunakan alat pelindung atau terinfeksi dari peralatan yang tidak steril. Sementara itu penularan dari Ibu ke bayinya sampai saat ini berhasil ditekan dengan program PMTCT.
Menurut saya (lagi) akan lebih elok jika kita berjalan sesuai dengan urutan yang benar, tidak terbolak-balik. Berikan pengetahuan pada masyarakat terlebih dahulu, biarkan masyarakat menimbang langkah atau tindakan apa yang akan mereka ambil. Baru setelah itu lengkapi dengan langkah selanjutnya seperti perlindungan pada golongan yang beresiko. Dimana saat ini yang gencar dikampanyekan adalah kondom, dan semoga saja distribusi kondom yang telah berjalan selama ini tepat sasaran (karena sampai detik saya menulis ini, otak saya masih beranggapan bahwa yang memerlukan kondom adalah pasangan sah yang salah satu diantaranya memerlukan proteksi dari penularan HIV/AIDS). Tidak melenceng kepada mereka yang selayaknya tidak memerlukan. Berikutnya bisa dilakukan sreening pada kelompok berisiko tinggi dengan melakukan VCT.
Jika kita langsung menuju pada tahap spesific protection dengan pembagian kondom dan early diagnosis dengan VCT tidak menutup kemungkinan jumlah kasus HIV-AIDS tetap meningkat. Kenapa? Karena masyarakat tetap tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk bisa membentengi dirinya dari tindakan-tindakan yang dapat menularkan HIV-AIDS. Di Kamboja peningkatan pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS berpengaruh terhadap perilaku dan berhasil menurunkan jumlah infeksi baru (maaf lupa gak nyimpan sumbernya).

Saat ini banyak sekali komunitas, perkumpulan, atau LSM yang bergerak dibidang HIV-AIDS. Mulai dari bidang promosi kesehatan, suport ODHA, sampai dengan hal pengobatan. Semua mempunyai tujuan yang sama-sama baik. Semua mempunyai tujuan untuk menurunkan (atau lebih tepatnya tidak menambah) angka kesakitan HIV-AIDS.
Akan lebih baik jika semua bersinergi, bekerja bersama sesuai dengan tupoksi masing-masing (dan tanpa melupakan promotion of health tentunya :)) demi tercapainya tujuan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia. Amiiiin…



tpw’14.1

Tidak ada alasan untuk sebuah cinta..



Berawal dari sebuah ego anak manusia yang selalu merasa kurang puas dengan apa yang sudah didapat. Selalu bersikukuh pada apa yang sudah menjadi prinsip hidupnya. Meninggalkan kenyamanan semu yang akhirnya terdampar pada sebuah tempat dimana rasa syukur selalu mengalir setiap waktu.

Memasuki dunia baru yang sedikit asing, bertemu dengan banyak orang dengan beraneka sifat. Iyaahh… dari sinilah hidupku dimulai. Dari semua hal yang terkesan mustahil tapi semua dapat tercapai dengan satu keyakinan, doa dan usaha. Merasa menjadi manusia kembali ketika bisa bermanfaat bagi orang lain.

Seperti halnya pagi itu. Sepasang suami istri datang dengan membawa bayi mungil yang tertutup kain gendongan. Teriknya matahari membekas diwajah telih mereka.

Astaghfirullah…. Bayi mungil berumur 11 bulan itu berwarna kuning kebiru-biruan. Bayangan bayi yang lucu menggemaskan pun sirna sudah. Hepatoma. Semenjak lahir sudah diuji oleh Sang Maha Kuasa. Baru sekali bertemu saja berat rasanya jika sampai menanggung semua itu. Tapi sungguh luar biasa kekuatan dan ketabahan kedua orang tuanya. Bagaimana dengan aku? Kesehatan yang menyertai masih sering kurang, penuh keluhan dan keluhan. Maafkan aku Tuhan…

Itu semua hanya sebagian kecil yang Tuhan tunjukkan padaku. Masih banyak lagi kejadian serupa yang setiap waktu membuat hati teriris. Bagaimana seorang Suci kecil yang harus berjuang menghadapi leukemia yang menggerogoti tubuhnya. Bagaimana kedua orang tuanya membanting tulang untuk kesembuhan putri kecilnya. Tak pernah terbesit keinginan untuk berhenti berjuang. Kenapa? Karena tidak perlu ada alasan untuk sebuah Cinta…

Lalu bagaimana tangguhnya perjuangan seorang Ade yang terus memaksa sekolah dengan kondisi kaki yang sudah tidak berfungsi. Kanker tulang telah menggerogoti kedua kakinya. Bagaimana dengan sebuah kursi roda dia tetap mengejar mimpinya di bangku sekolah. Bagaimana dengan kerasnya kedua orang tuanya mengupayakan kesembuhan putri tercintanya. Bagaimana teman-temannya menguatkan dia dengan keriangan remaja kala itu. Bagaimana sebuah kanker telah membingkai umurnya dalam batas yang sangat singkat.

Kalau kita mau sedikit saja membuka mata dan telinga kita, sebentar saja menundukkan kepala. Lihatlah bagaimana perjuangan saudara-saudara di sekitar kita. Bagaimana perjuangan mereka dibalik semua ujian yang tidak mereka minta. Kekuatan yang tumbuh dari jiwa-jiwa yang rapuh itulah yang menjadi modal besar bagi setiap orang disekitarnya untuk terus berjuang. Demi sebuah harapan dan cinta.

Apakah mereka pernah menyalahkan Tuhannya? Apakah mereka pernah membenci Tuhannya atas apa yang mereka alami?

Tidak.

Mereka selalu bersyukur atas apapun yang mereka dapatkan. Atas apa yang mereka jalani. Atas semua ujian dan nikmat yang mereka rasakan.

Lalu dimana rasa syukurmu saat apa yang kau alami tidak seberat cobaan mereka?
Dimana rasa syukurmu saat nikmat Tuhan selalu menyertaimu sepanjang waktu?

Pertanyaan itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri setiap waktu. Dimana semangat juangmu?

Karena tidak ada batasan waktu kapan kita harus berhenti berjuang, kapan kita harus berhenti berharap. Karena seindah indahnya harapan adalah harapan kepada Sang Maha Pencipta. Dan yang pasti tidak ada alasan untuk sebuah harapan dan cintaa…


Tpw’13


Mengapa kau tidak tersenyum saja?


Photo ini diambil suatu sore di pinggir danau di sebuah universitas negeri di Surabaya. Danau ini terkenal dengan nama danau cinta. Entah kenapa, semenjak aku kuliah disana sudah sangat tenar nama itu. Mungkin karena setiap sore banyak muda-mudi yang menikmati senja berdua disana. Tapi yang bikin aku gak habis pikir, kenapa mbak satu ini seolah mau menghancurkan nama besar danau cinta. Berdiri sendiri dengan wajah galau menatap asa.

Begitu beratnya kah beban menjadi mahasiswa Mbak?. Aku tahu mbak, kamu sedang menjalin hubungan yang complicated dengan dosen pembimbing skripsimu. Tapi aku mohon plisss jangan ada niat bunuh diri dengan nyemplung ke dalam danau. Aku jamin bukan malaikat yang akan menyambutmu, melainkan kerumunan ikan yang bersorak senang mendapatkan jatah makan super spesial hari itu.

Mbak, jika kau perhatikan, di sisi sebelah kananmu dua muda-mudi tertawa riang menikmati bersama. Tapi kau kenapa bermuram durja seolah tak ada lagi hari esok untukmu. Apa sebenarnya yang kau gundahkan. Mengapa kau tidak tersenyum saja? Janganlah kau tanyakan jawaban atas dukamu pada semilir angin dan langit sore. Hanya Tuhannya tempat segala jawaban berada.




--terimakasih untuk @SLNailufar atas photonya--

ANTARA AKU, KAU, DAN BUAYA


Sore itu dengan sebuah buaya di tangan cukuplah untuk membuatnya tersenyum. Bukan karena aku membawa si buaya untuk melamarmu seperti adat Betawi, namun lebih karena aku tahu kau sangat menyukai buaya itu. Bahkan mungkin melebihi sukamu padaku.

Mulai dari atas kau amputasi kepala buaya lucu itu tanpa perlawanan. Kau sisakan dua pasang mata kismisnya yang kamu bilang “Ini asem”.  Lelehan coklat lembut cukup kau colek dengan ujung telunjukmu yang kemudian kau jilati berkali-kali.

Bagimu sekarang nikmat dunia itu cukup bisa bermesraan berdua dengan si buaya. Tidak seperti saat kau dewasa kelak Nak. Si buaya saja tak akan cukup menyenangkan hatimu. Seperti kami, para makhluk yang sudah berumur banyak ini akan banyak juga hal kau butuhkan untuk menyenangkan hati. Dan semakin banyak juga ingin yang sulit terkendali.

Nikmatilah dunia kecilmu senikmat kau bersama si buaya. Karena saat itu tak akan bisa kau ulang saat jerawat telah datang padamu.